Kaddo Minyak menjadi salah satu sajian khas masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan saat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hidangan berbahan beras ketan itu memiliki cita rasa gurih, aroma rempah kuat serta teknik pengolahan khas.
Kaddo Minyak dibuat dari ketan putih, santan kental, ketumbar, sereh, lengkuas, kunyit, garam serta bawang goreng. Perpaduan bahan itu menghasilkan ketan berwarna kuning keemasan, bertekstur padat, sekaligus kaya rasa.
Keunikan Kaddo Minyak terletak pada proses akhir pengolahannya. Ketan matang dipukul-pukul memakai centong kayu berukuran besar selama beberapa menit agar minyak alami dari ketan keluar sehingga teksturnya semakin menyatu.
Sajian itu lazim hadir dalam tradisi maulid atau maudu di Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis menempatkannya sebagai bagian dari hidangan perayaan, lalu menyantapnya bersama lauk seperti ayam goreng.
Dikutip dari RRI, bahan utama Kaddo Minyak terdiri atas beras ketan putih serta santan kental. Bumbu lain mencakup ketumbar biji, sereh, lengkuas, kunyit bubuk, garam serta bawang goreng.
Pembuatan dimulai dari mencuci ketan sampai bersih, kemudian merendamnya selama sekitar 30 menit. Ketan selanjutnya dikukus selama 15 menit bersama sereh serta lengkuas.
Ketumbar utuh digoreng memakai minyak kelapa hingga mengeluarkan aroma harum. Santan kemudian dididihkan bersama garam, ketumbar goreng beserta minyaknya lalu ditambahkan bawang goreng.
Ketan setengah matang dipindahkan ke wadah besar sebelum disiram campuran santan dan bumbu secara perlahan. Setelah bumbu meresap, ketan kembali dikukus sampai matang.
Tahap terakhir menjadi pembeda Kaddo Minyak dari olahan ketan pada umumnya. Ketan matang dikeluarkan dari kukusan lalu dipukul-pukul memakai sendok atau centong kayu besar sekitar lima menit sampai minyak alaminya keluar serta butiran ketan semakin menyatu.
Kaddo Minyak kemudian disajikan bersama ayam goreng sebagai pendamping. Taburan bawang goreng menambah aroma sekaligus memberikan tekstur renyah pada hidangan.
Tradisi membuat Kaddo Minyak tidak sekadar mempertahankan resep kuliner lokal. Sajian itu menjadi bagian dari perayaan Maulid masyarakat Bugis-Makassar sekaligus sarana menjaga pengetahuan memasak warisan keluarga.
Di tengah perubahan pola konsumsi, keberadaan Kaddo Minyak memperlihatkan cara kuliner tradisional tetap bertahan melalui perayaan budaya. Resepnya terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui praktik langsung di dapur keluarga.
You must be logged in to post a comment Login