Indonesia menghadapi pekerjaan rumah dalam memastikan baterai tetap bernilai setelah masa penggunaan pertamanya berakhir. Industri baterai perlu memiliki mekanisme untuk mengukur kondisi, menentukan sisa usia pakai, hingga mengelola baterai bekas sebelum volume limbah kendaraan listrik meningkat.
Pasalnya sampai sekarang, Indonesia belum memiliki lembaga khusus untuk menentukan siklus pakai, tingkat penuaan, maupun sisa kualitas baterai secara komprehensif. Ketiadaan mekanisme itu membuat pengelolaan baterai setelah masa pakai pertama berakhir menjadi tantangan bagi pengembangan ekosistem nasional.
“Ini menjadi pekerjaan rumah penting dalam membangun ekosistem baterai nasional, termasuk kebutuhan terhadap special tools untuk mengukur kondisi baterai serta pengembangan mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR) agar pengguna dapat mengetahui sejak awal usia optimal dan perkembangan ageing baterai yang digunakan. Ini yang diperlukan untuk memajukan industri baterai nasional,” ujar Prof. Dr. rer. nat Evvy Kartini, pembicara workshop The Battery Show Indonesia.

Industri baterai Indonesia
Padahal kebutuhan itu semakin mendesak seiring pertumbuhan kendaraan listrik serta pengembangan energi terbarukan. Perkiraan limbah baterai kendaraan listrik mencapai 57 ribu ton pada 2030, lalu meningkat menjadi 322 ribu ton pada 2035.
Volume itu membuka peluang pengembangan industri pengelolaan baterai bekas. Alih fungsi atau repurposing dapat memperpanjang masa manfaat baterai, sedangkan recycling menjadi jalur pemulihan material setelah kapasitasnya tidak lagi memadai untuk penggunaan awal.
Tantangan pengelolaan baterai turut berkaitan erat dengan perubahan sistem energi. Simon Wan, Energy Solution Director of Huawei, menilai pertumbuhan energi terbarukan mendorong kebutuhan terhadap sistem kelistrikan lebih lokal, fleksibel, serta cerdas.
“Sistem tenaga menjadi semakin lokal, fleksibel, dan kompleks. Kita membutuhkan sistem energi yang lebih cerdas dan lebih dekat dengan pengguna, sekaligus mampu mengelola berbagai sumber daya secara bersama-sama,” ujar Simon.

Kandungan lokal baterai
Pengelolaan baterai sepanjang siklus hidup menjadi bagian dari kebutuhan infrastruktur energi masa depan. Sistem penyimpanan energi perlu terhubung secara cerdas, sementara infrastruktur kelistrikan harus mampu menjaga kontinuitas pasokan di tengah perubahan pola produksi serta konsumsi energi.
Bagi industri nasional, tantangannya bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi baterai. Kesiapan alat ukur, standar penilaian kondisi, mekanisme tanggung jawab produsen, hingga fasilitas pengolahan akhir masa pakai menjadi fondasi agar baterai tetap memiliki nilai ekonomi setelah keluar dari kendaraan atau sistem penyimpanan pertama.
You must be logged in to post a comment Login