Marc Marquez menilai kecepatan dan insting Jorge Martin menjadi modal utama rivalnya dalam persaingan memperebutkan gelar juara dunia MotoGP. Penilaian itu muncul menjelang pertarungan keduanya di Phillip Island, Australia, saat jarak poin mereka di klasemen hanya terpaut dua angka.
Marquez mengakui Martin memiliki kemampuan menyerang tanpa terlalu banyak berpikir ketika berada di atas motor. Karakter tersebut membuat pembalap Aprilia itu mampu tampil agresif, bahkan ketika situasi kejuaraan sebenarnya memungkinkan dirinya bermain lebih aman.
“Jorge sangat cepat dan, bagi saya, salah satu kekuatannya adalah dia tidak terlalu banyak berpikir saat berada di atas motor. Dia mengandalkan insting, meskipun selama bertahun-tahun mulai sedikit lebih banyak berpikir,” ujar Marc Marquez dilansir Motorsport.com.

Jorge Martin
Persaingan keduanya memperlihatkan pendekatan berbeda sepanjang musim. Martin mengandalkan konsistensi untuk memimpin klasemen, sedangkan Marquez mengejar ketertinggalan melalui kecepatan dan kemenangan beruntun.
Marquez sempat tertinggal 102 poin dari pemimpin klasemen sebelum memangkas jarak itu dalam tujuh seri, mulai dari Mugello hingga San Marino. Sejak GP Italia, pembalap bernomor 93 tersebut mengoleksi enam kemenangan, termasuk lima kali menyapu bersih kemenangan sprint race dan grand prix dalam satu akhir pekan.
Martin baru meraih satu kemenangan grand prix sepanjang periode itu, yakni di Le Mans. Namun, pembalap bernomor 89 tersebut mencatatkan sembilan podium dan lima kemenangan sprint race berkat konsistensinya.
Marco Bezzecchi turut meramaikan persaingan gelar juara dunia. Pembalap Aprilia itu tertinggal 46 poin dari Martin dan 44 poin dari Marquez.

Marc Marquez finis di MotoGP Mandalika 2026
Salah satu momen yang membekas bagi Marquez terjadi pada GP Malaysia 2024 di Sepang. Saat itu, Martin memimpin klasemen dengan keunggulan 17 poin atas Francesco Bagnaia sebelum memperlebar jarak menjadi 29 poin setelah memenangi sprint race, sementara Bagnaia terjatuh pada lap ketiga grand prix.
Martin sebenarnya memiliki peluang mengambil pendekatan lebih hati-hati karena gelar juara dunia kelas premier sudah berada dalam jangkauannya. Namun, ia justru terlibat duel sengit melawan Bagnaia pada empat lap pembuka, termasuk sembilan kali aksi saling menyalip.
“Saya ingat balapan di Malaysia pada 2024, ketika Martin bersaing melawan Pecco untuk gelar juara. Martin sudah memenangi sprint race dan saya finis kedua, tetapi dia tetap bertarung pada lap-lap awal seolah-olah itu lap terakhir,” pungkas Marquez.
You must be logged in to post a comment Login