PT BYD Motor Indonesia menghentikan impor mobil listrik secara utuh atau completely built up (CBU) setelah pabriknya di Subang, Jawa Barat beroperasi. Kehadiran fasilitas ini diklaim cukup buat menjawab kebutuhan pasar dalam negeri.
Ada pun beberapa stok impor saat ini hanya tersisa di dealer dalam jumlah terbatas. Sehingga diperkirakan ketersediaannya bakal habis dalam waktu singkat.
“Sudah tidak (impor) sama sekali. Kita memang berkomitmen untuk setop karena kita sudah punya pabrik,” ungkap Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia beberapa waktu lalu.

Fasilitas Pabrik BYD
BYD Indonesia membangun pabrik karena memang sudah menjadi kewajiban perusahaan sebagai bagian dari kompensasi atas insentif impor. Perusahaan juga harus memenuhi persyaratan produksi lokal, termasuk kapasitas baterai serta motor listrik.
Sementara BYD sendiri sudah memanfaatkan kesempatan mengimpor kendaraan listrik hingga 100.000 unit selama dua tahun. Dari kuota itu, perusahaan menggunakan sekitar 92.000 unit sebelum beralih ke produksi domestik.
Nilai investasi BYD di Indonesia, mencakup pabrik serta infrastruktur pendukung, mencapai sekitar Rp16 triliun. Fasilitas Subang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun atau sekitar 10.000 unit per bulan, meski jumlah serta komposisi produksi dapat berubah mengikuti model dan permintaan pasar.
Namun peralihan dari impor CBU menuju produksi lokal belum menjadi jaminan penurunan harga mobil listrik BYD. Luther mengatakan pemerintah telah menyiapkan mekanisme fiskal agar transisi produksi berjalan mulus, sehingga perbedaan struktur fiskal antara kendaraan impor serta rakitan lokal tidak serta-merta mengubah harga jual.
“Komponen pembentuk harga itu sebenarnya harusnya volume. Kalau berbasis produksi tapi kita enggak dapat volumenya, juga akan malah menciptakan harga yang jauh lebih mahal,” ujarnya.

BYD M6 DM
Menurut Luther, optimalisasi kapasitas pabrik menjadi fokus BYD sebelum memperluas lokalisasi model lain. Produksi dalam volume besar dinilai penting untuk menjaga efisiensi biaya kendaraan.
Pada tahap awal, BYD memproduksi model berpenjualan signifikan, termasuk BYD M6 EV, M6 DM, serta Atto 1. Perusahaan membuka peluang melokalkan model lain secara bertahap, termasuk kendaraan dari merek premium Denza.
Kewajiban produksi domestik ditargetkan terpenuhi dalam dua tahun ke depan seiring pertumbuhan penjualan BYD di Indonesia. Perusahaan kini mengandalkan pabrik Subang sebagai basis produksi lokal sekaligus pijakan untuk memperluas keterlibatan dalam ekosistem kendaraan energi baru.
You must be logged in to post a comment Login