Kementerian Perindustrian terus mempercepat pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih. Upaya ini juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing industri otomotif nasional di tengah pergeseran global menuju teknologi rendah emisi.
Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya mendorong produksi, tetapi juga membangun pasar. Salah satu langkah konkret dilakukan dengan menjadikan pemerintah sebagai pengguna awal kendaraan listrik buatan dalam negeri.
“Pengembangan industri kendaraan listrik harus dilakukan secara menyeluruh. Kami tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga memastikan ada permintaan yang kuat melalui peran pemerintah sebagai pengguna awal,” ujarnya.
Ia menambahkan, keseimbangan antara suplai dan permintaan menjadi kunci agar industri dapat tumbuh berkelanjutan. “Kalau pasar terbentuk sejak awal, pelaku industri akan lebih percaya diri untuk melakukan ekspansi,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, performa industri kendaraan listrik berbasis baterai menunjukkan lonjakan signifikan. Pertumbuhan rata-rata tahunan bahkan disebut melampaui 140 persen dalam lima tahun terakhir, mencerminkan akselerasi yang sangat cepat.
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada pangsa pasar. Sepanjang 2025, kontribusi kendaraan listrik—baik battery electric vehicle (BEV), hybrid, maupun plug-in hybrid—telah melampaui 21 persen dari total pasar otomotif nasional.
Dari sisi produksi, kontribusinya juga terus meningkat. Pada periode yang sama, kendaraan listrik menyumbang lebih dari 11 persen terhadap total produksi nasional, menandakan kesiapan industri dalam negeri.
Memasuki 2026, tren pertumbuhan diperkirakan berlanjut seiring hadirnya produsen baru. Mereka memanfaatkan berbagai insentif yang disiapkan pemerintah, termasuk kebijakan impor completely built up (CBU).
Selain itu, penguatan sektor ini turut didukung oleh pembangunan ekosistem yang semakin terintegrasi. Indonesia mulai membentuk rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan bahan baku hingga proses daur ulang.
Pemerintah juga terus memperkuat regulasi guna memberikan kepastian bagi pelaku usaha. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat pengembangan industri.
Sejumlah investor besar telah masuk ke Indonesia, seperti Hyundai Motor Manufacturing Indonesia dan SGMW Motor Indonesia. Kehadiran mereka diperkuat oleh Industri Baterai Indonesia yang berperan dalam membangun fondasi industri baterai nasional.
Ke depan, pemerintah juga menyiapkan pembentukan perusahaan khusus untuk memproduksi mobil listrik nasional. Langkah ini diharapkan mampu memperluas pasar domestik sekaligus mendukung target produksi massal pada 2028.
“Dengan ekosistem yang semakin kuat dan dukungan kebijakan yang konsisten, kami optimistis Indonesia bisa menjadi salah satu pusat produksi kendaraan listrik di kawasan,” kata Agus.
Transformasi ini diharapkan tidak hanya memperkuat industri otomotif, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendorong ekonomi hijau yang berkelanjutan.
You must be logged in to post a comment Login