Connect with us

Otomotif

Michelin Tarik Ban Soft di MotoGP Jepang 2026, Ini Rekomendasinya

Published

on

Sprint Race MotoGP Jepang
MotoGP Jepang 2026

Michelin menarik ban belakang soft dari balapan utama MotoGP Jepang setelah kompon tersebut bermasalah pada sprint race di Motegi. Keputusan itu membuat pebalap harus memilih ban medium yang perlu dikelola ketat atau hard berpenguat yang belum pernah dipakai di lintasan sepanjang akhir pekan.

Masalah ban paling terlihat pada sprint 12 lap saat Jorge Martin serta Francesco Bagnaia mengalami persoalan serius pada ban belakang. Jack Miller, pengguna ban medium, bahkan melaporkan blistering cukup parah sehingga pilihan ban untuk balapan utama menjadi sulit diprediksi.

“Situasinya sangat berkaitan dengan gaya berkendara pebalap, pengelolaan ban, serta setelan motor,” ujar Piero Taramasso, Piero Taramasso, Manajer Two-Wheel Motorsport Michelin .

Kecelakaan Sprint Race MotoGP Jepang 2026

Kecelakaan Sprint Race MotoGP Jepang 2026

Menurut Taramasso, temperatur ban sudah tinggi sejak sesi latihan. Sprint kemudian berlangsung sekitar sembilan detik lebih cepat dibanding balapan tahun lalu, sementara temperatur permukaan lintasan mencapai 40 derajat Celsius.

Kecepatan tinggi membuat beban pada ban belakang meningkat. Karakter sprint yang membuat pebalap memacu motor sejak lap pertama sampai finis turut memicu wheelspin sehingga temperatur ban semakin sulit dikendalikan.

Advertisement
ADS Otokuliner 728x90

Tidak semua pebalap mengalami masalah serupa. Marc Marquez mampu menyelesaikan sprint memakai ban soft tanpa keluhan, sedangkan beberapa motor Aprilia serta Ducati mengalami blistering besar.

Michelin akhirnya mencoret ban soft dari pilihan balapan utama. Ban medium masih diperbolehkan, tetapi Michelin meminta pebalap mengelola kompon itu secara hati-hati sepanjang lomba.

Baca Juga: Ban Belakang Bermasalah, Bagnaia Gagal Finish Sprint Race MotoGP Jepang 2026

Pilihan lain adalah ban hard berpenguat yang kini menjadi rekomendasi Michelin. Masalahnya, kompon itu belum sekalipun digunakan untuk mencatatkan lap di Motegi sehingga tim tidak memiliki data balapan langsung.

Jack Miller bahkan memperkirakan sebagian besar pebalap bisa beralih ke ban hard. Menurutnya, keputusan memakai kompon tanpa data bisa membuat balapan berubah menjadi perjudian strategi.

Marco Bezzecchi menghadapi dilema serupa setelah memakai ban medium pada sprint. Ia mengaku tingkat keausan masih terlihat wajar, tetapi penggunaan kompon itu untuk tambahan 12 lap membuat keputusan balapan utama tidak sederhana.

Advertisement
ADS Otokuliner 728x90

“Saya akan mengikuti saran mereka. Saya akan menganalisisnya, lalu bila menurut saya medium menjadi pilihan terbaik, saya akan menggunakannya,” kata Bezzecchi.

Francesco Bagnaia

Francesco Bagnaia

Michelin tidak mengubah jarak balapan maupun mewajibkan pit stop di tengah lomba. Sebagai kompensasi atas minimnya data ban hard, durasi warm-up diperpanjang dari 10 menjadi 20 menit agar tim mendapat kesempatan tambahan membaca karakter kompon.

Pilihan ban juga menjadi perhatian Ducati. Ban hard berpenguat memakai konstruksi serupa kompon yang sebelumnya menimbulkan persoalan grip bagi Ducati di Red Bull Ring.

Situasi semakin menarik karena Marc Marquez berhasil memenangkan sprint memakai ban soft, sementara rekan setimnya, Bagnaia, justru terpaksa masuk pit satu lap sebelum finis akibat getaran hebat dari ban belakang. Kondisi itu menunjukkan persoalan ban di Motegi tidak sepenuhnya seragam dan turut dipengaruhi gaya berkendara, setelan motor, serta cara masing-masing pebalap mengelola temperatur.

Advertisement
ADS Otokuliner 728x90
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Read