Suzuki menyiapkan strategi elektrifikasi baru untuk satu dekade ke depan, mencakup mild hybrid, Series Hybrid hingga teknologi range extender. Pabrikan Jepang itu sekaligus mengembangkan mesin bensin turbo baru serta arsitektur komponen modular guna memangkas waktu pengembangan produk.
Strategi tersebut mengandalkan pendekatan multi-powertrain agar teknologi elektrifikasi bisa diterapkan pada berbagai kelas produk. Suzuki menargetkan waktu pengembangan kendaraan turun menjadi 24 bulan pada 2030, sekaligus menyederhanakan komponen agar biaya produksi lebih efisien.
Suzuki menjelaskan pengembangan powertrain baru diarahkan pada penggunaan komponen seragam berukuran ringkas, termasuk sistem e-Axle. Pendekatan tersebut memungkinkan satu teknologi dipakai pada kendaraan listrik murni maupun hybrid tanpa menambah dimensi dasar sistem.

Rencana Suzuki 10 tahun ke depan
Sistem e-Axle 3-in-1 pada Suzuki e Sky bakal berkembang menjadi unit 6-in-1 berukuran sama. Versi 10 persen lebih besar turut disiapkan untuk model subkompak, kompak hingga midsize, sementara motor listrik dirancang bebas Heavy Rare Earth agar lebih mudah didaur ulang.
Untuk kendaraan listrik perkotaan, e Sky dibekali motor listrik depan 94 HP serta motor belakang 13 HP pada varian penggerak 4WD. Model berukuran lebih besar bakal memakai e-Axle 174 HP, ditambah opsi e-4WD 40 HP di bagian belakang.
Suzuki turut menyiapkan mild hybrid baru bagi model berukuran kecil, dengan target memangkas emisi karbon 15 persen. Teknologi Series HEV diproyeksikan memberi pengurangan emisi hingga 29 persen, setara penghematan sekitar 300 kilogram CO2 setiap 10.000 kilometer.

Rencana Suzuki 10 tahun ke depan
Pada Series HEV, mesin pembakaran internal tidak langsung menggerakkan roda, melainkan berfungsi sebagai generator listrik. Konsep itu dapat dikembangkan menjadi REEV Light melalui kemampuan plug-in serta baterai berukuran lebih kecil dibanding sistem kendaraan listrik murni.
Baleno dan Fronx diperkirakan menjadi kandidat awal pengguna Series HEV, sementara S-Cross, Vitara, Grand Vitara, serta Victoris berpotensi menyusul. Suzuki belum mengungkap rincian final mengenai model maupun jadwal penerapan sistem hybrid tersebut.
Di luar elektrifikasi, Suzuki masih mengembangkan mesin bensin Direct Injection Turbocharged untuk pasar seperti India, termasuk kemungkinan varian CNG. Efisiensi termal mesin ditargetkan meningkat dari 40 persen pada mesin 1,2 liter Z12E menjadi 50 persen melalui lean combustion, waste-heat recovery serta penyempurnaan Miller cycle.
Suzuki turut menjalankan program pengurangan bobot bertajuk S Light, dengan target memangkas 100-120 kilogram per kendaraan. Langkah itu diperlukan untuk mengimbangi tambahan bobot sekitar 80 kilogram akibat regulasi keselamatan serta emisi mulai 2030.

Rencana Suzuki 10 tahun ke depan
Program tersebut mencakup penggunaan baja ultra-high-tensile 1.470 MPa pada area penting struktur tabrakan serta baut M8 berkepala lebih kecil. Suzuki juga menyiapkan arsitektur SDV Lite, sementara Central Zone ECU mulai 2031 ditargetkan memangkas biaya elektronik 30 persen serta bobot modul 15 persen.
Di sektor manufaktur, Suzuki menargetkan peningkatan efisiensi pengembangan hingga 30 persen serta produksi 50 persen di pabrik Manesar, India. Kapasitas produksi tahunan Suzuki di India pun diproyeksikan mencapai 4 juta unit pada 2030.
You must be logged in to post a comment Login