Rawon dikenal sebagai salah satu hidangan khas Jawa Timur berkat kuah hitam pekat serta rasa gurihnya. Di balik semangkuk rawon, tersimpan jejak kuliner panjang yang disebut telah muncul sejak lebih dari seribu tahun lalu.
Sejumlah sumber sejarah mengaitkan keberadaan rawon dengan Prasasti Taji dari abad ke-10 Masehi. Prasasti itu memuat istilah “rarawwan” yang diyakini berkaitan dengan bentuk awal nama rawon.
Jejak tersebut membuatnya menjadi salah satu kuliner Nusantara yang memiliki catatan sejarah cukup tua. Hidangan berbahan daging ini kemudian berkembang mengikuti perubahan masyarakat maupun ketersediaan bahan pangan.
Pada masa kerajaan, rawon disebut hadir dalam lingkungan bangsawan, termasuk pada periode Majapahit. Hidangan itu kemudian keluar dari lingkungan kerajaan dan berkembang sebagai makanan yang dikonsumsi masyarakat luas.
Ciri paling mudah dikenali terletak pada kuahnya. Warna hitam pekat berasal dari kluwek, sementara campuran rempah menghasilkan rasa gurih, kompleks serta sedikit pahit.
Kluwek atau Pangium edule menjadi bahan penting dalam pembuatan rawon. Daging bijinya yang telah melalui proses fermentasi menghasilkan warna sekaligus karakter rasa khas yang sulit digantikan bahan lain.
Penggunaan kluwek membutuhkan pengolahan khusus sebelum masuk ke dalam masakan. Biji mentah mengandung senyawa yang berpotensi beracun sehingga harus melalui proses perebusan, perendaman hingga fermentasi agar aman digunakan.
Daging yang digunakan juga mengalami perubahan seiring waktu. Pada masa awal perkembangannya, daging kerbau disebut menjadi pilihan, sedangkan daging sapi kini jauh lebih umum ditemukan dalam sajian rawon.
Asal-usul nama rawon turut dikaitkan dengan bahasa Jawa kuno. Kata “rawa” disebut berhubungan dengan karakter warna gelap yang menjadi ciri utama kuah hidangan tersebut.
Dalam penyajiannya, rawon biasanya ditemani nasi serta pelengkap seperti tauge pendek, telur asin, sambal dan kerupuk. Kombinasi tersebut membuat rasa kuah kluwek yang kuat menjadi lebih seimbang saat disantap.
Kini rawon tidak hanya dikenal di Jawa Timur. Hidangan tersebut telah menyebar ke berbagai daerah Indonesia bahkan dikenal wisatawan mancanegara sebagai salah satu representasi kuliner Indonesia.
Lebih dari sekadar makanan berkuah hitam, rawon memperlihatkan bagaimana tradisi kuliner dapat bertahan melintasi perubahan zaman. Resep serta penggunaan kluwek membuat identitas rawon tetap kuat meski telah melewati perjalanan sejarah selama berabad-abad.
You must be logged in to post a comment Login