Connect with us

Kuliner

Mengenal Tiwul, Panganan Penyelamat Saat Penjajahan Jepang

Published

on

Tiwul
Tiwul

Tiwul lebih sering dikenal sebagai jajanan pasar bercita rasa manis, disajikan bersama kelapa parut serta gula merah. Di balik bentuk sederhananya, makanan berbahan singkong tersebut pernah menjadi sumber pangan penting ketika beras sulit didapat.

Bahan utama tiwul adalah gaplek, yakni singkong yang dikeringkan lalu ditumbuk hingga menjadi tepung. Tepung gaplek kemudian diberi sedikit air sebelum dikukus sampai matang.

Makanan ini lekat dengan masyarakat Gunungkidul, Yogyakarta, terutama karena kondisi geografis wilayahnya didominasi lahan kering. Tradisi mengonsumsi tiwul turut berkembang di Wonogiri maupun sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

Pada masa lalu, tiwul tidak identik dengan kudapan manis seperti sekarang. Masyarakat menyantapnya sebagai pengganti nasi bersama lauk sederhana berupa sayuran, tempe hingga sambal.

Advertisement
ADS Otokuliner 728x90

Peran tiwul sebagai sumber pangan semakin penting ketika Indonesia mengalami masa sulit pada pendudukan Jepang 1942-1945. Perang mengganggu distribusi beras sehingga masyarakat mencari bahan pangan lain yang lebih mudah diperoleh.

Baca Juga: Jogja Prima Fest 2026 Hidupkan Jajanan Tempo Dulu

Singkong menjadi salah satu pilihan karena dapat tumbuh di lahan yang relatif kering. Hasil panen kemudian diolah menjadi gaplek agar bisa disimpan lebih lama sebelum diubah menjadi tiwul.

Ketergantungan terhadap tiwul kembali terlihat ketika harga beras meningkat pada era 1960-an. Di sejumlah wilayah selatan Jawa, keluarga berpenghasilan rendah memanfaatkan singkong sebagai sumber karbohidrat untuk menjaga kebutuhan pangan tetap terpenuhi.

Gunungkidul menjadi salah satu daerah yang paling kuat mempertahankan tradisi tersebut. Kondisi tanah serta keterbatasan sumber air membuat budidaya singkong lebih memungkinkan dibandingkan padi sehingga tiwul berkembang sebagai bagian dari pola makan masyarakat.

Dari sisi pengolahan, tiwul memiliki keunggulan sederhana tetapi penting. Gaplek dapat disimpan dalam waktu relatif lama, sementara proses memasaknya tidak membutuhkan peralatan rumit.

Advertisement
ADS Otokuliner 728x90

Bagi masyarakat pedesaan, karakter tersebut membuat tiwul lebih dari sekadar makanan pengganti nasi. Tiwul menjadi bagian dari cara masyarakat memanfaatkan hasil kebun sekaligus menghadapi keterbatasan pangan.

Seiring perubahan pola konsumsi, posisi tiwul ikut bergeser. Makanan yang dahulu hadir sebagai pangan utama kini lebih banyak ditemukan sebagai jajanan tradisional, menu restoran hingga oleh-oleh khas daerah.

Meski tidak lagi menjadi makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat, tiwul tetap menyimpan cerita tentang ketahanan pangan. Dari singkong yang tumbuh di lahan kering, masyarakat menciptakan sumber makanan sederhana untuk bertahan melewati masa sulit.

Advertisement
ADS Otokuliner 728x90
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Most Read